![]() |
| Buah Duku (Image by http://2.bp.blogsop.com) |
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 02 Maret 2016
Edible Coating Duku
Preserving
South Sumatera Duku (Lansium domesticum) Base on Edible Coating Technique from
Shrimp Sehll Weste
SUMMARY
South
Sumatra is famous as the fruits producers, one of the fruits is duku. The area of
duku plantation reach 3,851 ha wich are produce 62,226 tons of duku. On the
other hand, the huge number of duku does not fulfill the needed of domestic and
export demand, it because the duku of the "shelf life" duku
relatively short. So the fruit is blackened and rotten. Therefore it is
necessary for fruit preservation methods, which is known as an edible coating.
This method use shrimp shell waste as a raw material of chitosan and further
synthesized into a coating on the skin of duku.
This
study, known waste shrimp shells can be made of chitosan and used as leather
upholstery fruit or edible coating for duku in order to have a "shelf
life" longer. Edible coating of chitosan is able to maintain the condition
of the fruit approximately 2% of the fruit skin condition before coating. This
paper explained the procedure of chitosan-making to become edible coating.
Keywords:
Duku, Chitosan, Edible Coating
Silahkan
Kirim E-Mail ke rudihartono@student.unsri.ac.id
untuk Full Karya Tulis Ilmiah
Selasa, 12 Januari 2016
Beda Pendidikan di Palu dan Yogyakarta
Impian Ku Tentang Pendidikan di Indonesia
![]() |
| MIMPI (Image from http://langitilahi.com) |
Pendidikan
di Indonesia saat ini masih mengalami banyak permasalahan baik di kota maupun
pedesaan. Diantaranya, kekerasan terhadap peserta didik, kesenjangan pendidikan
antara sekolah di perkotaan dan di desa, kurangnya sarana dan prasarana
sekolah, banyak sekolah yang kondisinya rusak, akses ke sekolah yang jauh, kurangnya
guru di daerah tertingal atau perbatasan, dan moral sebagian peserta didik yang
jauh dari harapan dan cita-cita pendidikan di Indonesia karena melakukan
hal-hal yang negatif.
Dibalik
permasalahan pendidikan diatas, kita masih bisa menghirup angin segar dengan
berbagai prestasi yang diukir oleh siswa-siswi terbaik Indonesia, misalnya
juara di berbagai kompetisi di tingkat daerah, nasional bahkan Internasional. Siswa-siswi
Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan yang luar biasa,
tidak hanya pandai dibidang akademik, mereka juga terbukti memiliki kemampuan
seni, olahraga ataupun teknologi. Sekarang semua tergantung kepada pemerintah
dan kita semua, agar kemampuan dan bakat luar biasa anak-anak Indonesia dapat tersalurkan
dan pada akhirnya membawa Indonesia menjadi lebih baik dan mampu bersaing di
tingkat Internasional.
Saya
yakin, pendidikan di Indonesia suatu hari nanti akan menjadi lebih baik. Kita
semua memiliki impian yang sama akan wajah pendidikan di Indonesia. Yakni, semua
sekolah yang layak di nusantara, akses sekolah yang dekat dan aman, guru ada
disemua pelosok negeri dengan kemampuan yang mumpuni dan bertangung jawab,
tidak ada lagi anak Indonesia yang putus sekolah karena tidak ada biaya, tidak
ada lagi kekerasan terhadap pelajar, tidak ada lagi pelajar yang tawuran atau
berkelahi, pelajar Indonesia memiliki safat jujur, disiplin dan cinta tanah
air, dan pada akhirnya tidak ada lagi warga negara Indonesia yang buta huruf. Pelajar
Indonesia merupakan aset termahal dari bangsa ini, mereka adalah hari
esok bangsa Indonesia. Dengan pendidikan yang baiklah
kita dapat menjadikan mereka sebagai pelajar terbaik untuk kesejahteraaan dan
kemajuan Indonesia dimasa mendatang.
Dikirim ke #MENYAPANEGERIKU
Mengatasi Permasalahan Anak-Anak Indonesia
“Mengatasi
Permasalahan Anak-Anak Indonesia”
by : Rudi Hartono
Pembangunan Indonesia tumbuh begitu pesat disertai dengan
perkembangan teknologi yang cangih, yang secara tidak langsung mulai
mempengarui mentalitas dan moral anak bangsa cendrung menurun. Padahal masa
depan Indonesia bergantung pada anak-anak, karena yang akan memimpin negara ini
suatu hari nanti adalah mereka. Pernyataan ini didukung oleh undang-undang no
23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, yakni dalam salah satu point
pertimbanganya berbunyi “Bahwa anak adalah tunas, potensi, dan generasi muda
penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai
ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara
pada masa depan”. Undang-undang nomor 23 tahun 2002 sebenarnya merupakan payung
perlindungan anak. Akan tetapi kenyataanya begitu miris, karena kita sering
mendengar kabar-kabar kekerasan mengenai anak. Berbagai masalah tentang
ketidakadilan, pelecehan seksual, kekerasan dan kesejahteraaan anak mulai
terkuak satu demi satu dan tidak pernah sepi dari pemberitaan media cetak dan elektronik.
![]() |
| Generasi Masa Depan (Image by http://savechildrennepal.org/) |
Pendidikan dan kesejahteraan dan anak-anak juga diatur
dalam udang-udang nomor 23 tahun 2002, akan tetapi kenyataanya berbanding
terbalik. Menurut pengamat pendidikan, Muhammad Zuhdan, sebagaimana dilansir
suaramerdeka.com, 09/03/2013, mengatakan bahwa tahun 2010 tercatat terdapat 1,3
juta anak usia 7 – 15 tahun di Indonesia terancam putus sekolah. Tingginya
angka putus sekolah ini, salah satunya akibat mahalnya biaya pendidikan. Tentu
saja kondisi ini sangat memprihatinkan, mengingat bahwa seluruh anak di
Indonesia harus memperoleh pendidikan dasar minimal 12 tahun (jenjang SD –
SMA). Tak jauh berbeda dengan rendahnya kesejahteraan anak-anak di Indonesia,
karena Jumlah balita yang kekurangan gizi di Indonesia saat ini sekitar 900
ribu jiwa. Jumlah tersebut merupakan 4,5 persen dari jumlah balita Indonesia,
yakni 23 juta jiwa (indonesiafightpoverty.com). Miris sekali bukan ?, berbagai
permasalahan lainya tentang anak juga semakin banyak saat ini, seperti kekerasan,
eksploitasi, penganiayaan, pelecehan seksual, pemerkosaan dan penelantaran.
Permasalahan diatas muncul karena pengaruh lingkungan
sekitar yang buruk, kemiskinan, pola asuh orang tua dan regulasi peraturan pemerintah
yang begitu lemah. Kita tentu tidak mau Indonesia semakin terpuruk akibat dari
rusaknya anak-anak tunas bangsa. Anak-Anak Indonesia harus dilindungi, diayomi
dan diberikan hak-haknya, agar mereka bahagia dan menikmati masa anak-anaknya
sehingga masa depan Indonesia cerah dan jauh lebih baik dari saat ini. Penyelesaian
permasalahan yang menyangkut anak-anak dapat dilakukan dengan pendidikan,
perbaikan pola asuh orang tua, lingkungan sekitar dan regulasi pemerintah yang
dibenahi untuk melindungi anak-anak Indonesia. Hal ini dijelaskan juga dalam undang-undang
nomor 23 tahun 2002 bab IV pasal 20 yang berbunyi “Negara, pemerintah,
masyarakat, keluarga, dan orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap
penyelenggaraan perlindungan anak”.
Pendidikan begitu penting bagi anak-anak Indonesia,
melaui pendidikan anak Indonesia akan cerdas, akan tetapi bagaimana pendidikan
yang baik untuk Indonesia ?, pendidikan yang baik sebenarnya tidak hanya
bergantung pada sisi akademik, akan tetapi anak-anak perlu ditanamkan sifat moral
yang mengakar, mengingat Indonesia adalah penduduk terbanyak dengan penganut
Islam terbesar dunia jumlahnya sekitar 85 % dari jumlah total penduduk
Indonesia. Sudah sepatutnya anak-anak indonesia memegang teguh sifat kejujuran,
rasa saling menghargai, disiplin dan hal moril lainya, agar kelak saat dewasa
mereka tidak egois bahkan tidak korupsi. Beberapa sekolah di Indonesia sudah
mencantumkan kurikulum yang berbasis ESQ (Emotional Spiritual Quotient) sehingga anak tidak hanya pintar dalam akademik, tapi juga
tingkat spritual (nilai agama), Kemandirian, Soft Skill dan jiwa
entrupreneursip ditanamkan. Tentu ini merupakan salah satu cara perbaikan
kurikulum pendidikan Indonesia untuk kebaikan anak-anak.
Orang tua juga memegang adil paling utama untuk
melindungi dan mengayomi anak-anak, orangg tua yang baik tentu akan mendidik
anaknya menjadi generasi yang baik pula. Pola perhatian, kasih sayang, liburan
bersama dan rutinitas komunikasi perlu di tingkatkan agar anak-anak menjadi pribadi
yang baik dan tidak terjerumus dalam sisi gelap. Orang tua juga mampu
melindungi anak dari efek buruk lingkungan sekitar, dengan melarang atau
menjelaskan hal hal yang tidak baik terhadap anak sehingga anak tidak
terpengaruh oleh lingkungan yang buruk.
Kondisi lingkungan sekitar sangat berpengaruh terhadap
pembentukan karakter anak, anak yang bergaul dengan remaja tentu memiliki
kecendrungan sifat yang dewasa, anak yang bergaul dengan perokok biasanya akan ikut-ikutan
menjadi perokok. Oleh karena itu pemilihan lingkungan tempat anak berada memang
sepatutnya diperhatikan dan diketahui dengan pasti dengan tujuan anak tidak
berada pada lingkungan yang buruk. Tentunya pola pendidikan dari orang tua dan
sekolah yang baik akan memproteksi anak dari hal-hal yang berdampak negatif
bagi anak.
Lemahnya regulasi pemerintah dituding sebagai penyebab
dari permasalahan anak-anak saat ini, peraturan yang tidak dijalankan dengan
baik menjadikan banyaknya kekerasan terhadap anak sperti penganiayaan,
pemerkosaan dan eksploitasi serta rusaknya ahlak anak karena media cetak maupun
elektronik (Televisi dan Internet). Pemerintah melalui badan penegak hukum
sepatutnya memberihan hukuman yang berat kepada pelaku kekerasan, penganiaya
dan pemerkosa agar anak-anak Indonesia tidak lagi menjadi korban tindak
kejahatan. Sementara itu perlindungan anak
terhadap media media cetak maupun elektronik selayaknya menjadi
prioritas utama penyelesaian masalah lainya, karena anak-anak saat ini
kebanyakan meniru adegan dari media-media tersebut, beberapa dampak media
televisi dan internet seperti kekerasan yang disebabkan melihat adegan
sinetron, pemulukan yang ditiru dari adegan game yang dimainkan melaui game
online, anak-anak yang lebih suka menyayikan lagu orang dewasa ketimbang lagu
anak karena minimnya acara anak di televisi, video porno sangat mudah diakses
oleh anak. Penegakan peraturan pelarangan tayangan yang merusak ahlak dan
tingkah anak sebaiknya dilakukan dengan pemblokiran situs-situs yang
dikhawatirkan dapat berdampak negatif terhadap anak dan pelarangan serta
pemberian sanksi acara televisi yang melibatkan adegan yang juga berdampak
negatif bagi anak. Pemerintah memang harus tegas dalam semua aspek tersebut,
dengan harapan anak Indonesia akan terselamatakan dari perusakan moral oleh
media.
Akhirnya kita semua berharap generasi tunas bangsa
kita terlindungi dari kekerasan, penganiayan, pelecehan seksual, perusakan
moral dari media cetak maupun elektronik (televisi dan internet). Karena tugas
kita bersama untuk melindungi calon
pemimpin bangsa ini, agar mereka diberikan hak pendidikan dan kesehatan,
kesejahteraan dan kebahagian sehingga
memiliki karakter yang kuat untuk memimpin tanah air tercinta ini menuju era
yang lebih baik.
Daftar Pustaka
Undang-undang nomor 23 tahun 2002.
http://www.indonesiafightpoverty.com/2014/04/01/indonesia-masih-dihantui-kasus-gizi-buruk/
http://www.law.yale.edu/rcw/rcw/jurisdictions/asse/indonesia/Indon_Child_Prot.htm
http://edukasi.kompasiana.com/2013/12/24/tingginya-angka-putus-sekolah-di-indonesia-622368.html
Jumat, 01 Januari 2016
Pentingnya Soft Skill
Pentingnya
Soft
Skill
Pelajar dalam Proses Pembelajaran dan Pendidikan di Indonesia Guna Meningkatkan
Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)
untuk Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)
by : Rudi Hartono
by : Rudi Hartono
Belajar merupakan
salah satu proses agar manusia menjadi cerdas dan mampu menyelesaikan berbagai permasalahan
yang ada. Pendidikan dan belajar merupakan hak bagi setiap warga negara di Indonesia.
Karena masih banyak permasalahan yang terjadi dalam sistem pendidikan Indonesia,
oleh karena itu perbaikan pendidikan di Indonesia mutlak harus di lakukan, permasalahan
tersebut terlihat dari ketidak jujuran pelajar dalam ujian, bulliying, tawuran, dan sebagainya.
Pelajar di Indonesia terekesan hanya diarahkan menjadi pekerja atau buruh, ini
menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara konsumen terbesar di dunia,
pelajar yang telah lulus hanya menjadi pekerja di berbagai perusahan, jarang
sekali yang berminat berwirausaha dan membuka lapangan pekerjaan. Pola
pembelajaran Indonesia sudah sepatutnya dibenahi dan diperbaiki, sehingga
pelajar Indonesia lebih inovatif, kreatif dan mampu bersaing dengan pelajar
negara lain. Salah satu proses perbaikan pola pikir (mind side) dan prilaku pelajar di Indonesia dapat dilakukan dengan peningkatan
soft skill.
![]() |
| Smart Soft Skill (Image from Ist.Greenville.Edu) |
Soft skill merupakan
kemampuan, minat dan bakat yang dimiliki setiap manusia baik yang sifatnya
personal atau interpersonal.
Pendidikan yang bernuansa soft skill sudah selayaknya menjadi pembelajaran yang
harus ditambahkan di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat sekolah dasar, sekolah
menengah pertama dan sekolah menengah atas bahkan perguruan tinggi. Pemerintah
memang harus bekerja keras untuk melaksanakan hal ini, kerjasama antar lembaga
tentunya dapat menjadi faktor yang terpenting agar program ini dapat dilakukan,
peningkatan soft skill pelajar dapat terbagi dalam banyak aspek
mendasar, diantaranya dengan pembelajaran agama, organisasi, minat bakat dan entrepreneurship. Proses ini bila
dijalankan dengan baik akan membawa dampak positif bagi pendididkan di
Indonesia dan menjadikan pelajar Indonesia lebih berkarakter.
Pembelajaran agama
tentu menjadi dasar utama bagi setiap pelajar bahkan warga negara Indonesia
pada umumnya, karena dengan agama kita akan mengetahui mana yang baik dan buruk
serta menjadi batasan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hal ini sangat
penting mengingat semakin rusaknya moral pelajar indonesia, mulai dari ketidak
jujuran dalam ujian, pencurian, tawuran bahkan sampai ketindakan seks bebas.
Penguatan agama dapat dilakukan dalam setiap jenjang pendidikan, agar berbagai
permasalah tersebut dapat teratasi dengan baik. Pelaksanaan pembelajaran agama
memang memerlukan waktu khusus di sekolah, contoh nyata program ini dilakukan
di negara Turki beberapa tahun terakhir ini, Indonesia tentu dapat mencontoh
keberhasilan negara lain dalam melaksanakan program tersebut, agar pelajar
Indonesia lebih bermoral dan menjadi penurus bangsa yang baik serta amanah.
Organisasi
merupakan wadah bagi pelajar uttuk mengembangkan kemampuanya. Organisasi yang
paling umum seperti PMR dan Pramuka yang terbukti ampuh mengasah soft skill anggotanya dan menciptakan kerjasama dan rasa
nasionalisme. Organisasi pelajar ini juga perlu perhatian khusus agar dapat
tersalurkan dengan baik, tentu butuh pengorbanan baik dari sekolah untuk
melakukan pembinaan dan pelatihan yag memadai, selain itu memang perlu
dilakukan suatu kegiatan rutin yang sifatnya regional bahkan nasional untuk
menunjang berbagai kegitatan organisasi-organisasi ini, mengingat dari
organisasi inilah pelajar berlatih bagaimana menyelesaikan permasalahan,
berdisikusi, dan berbicara (menyampaikan pendapat). Dari organisasilah banyak
pemimpin baru terlahir dan dengan organisasi juga akan melahirkan rasa saling
tolong-menolong dan kerjasama tim yang saat ini sebenarnya mulai luntur di
masyarakat perkotaan pada khususnya.
Minat dan Bakat
menjadi faktor peningkatan soft skill
lainya, berbagai minat bakat misalnya; menyanyi, menari, melukis, memasak dan
lainya, memang harus diberikan wadah khusus agar tersalurkan dengan baik. Pelaksanaan
program ini dapat dilakukan di tingkat sekolah atau daerah, dengan pembuatan tempat
kursus atau organisasi yang sifatnya gratis dengan berbagai pelatihan dan
penyaluran bakat. Program ini dapat menjadi wadah yang menghasilkan pelajar
yang memiliki sifat kratif dan inovatif, kedepan kemampuan yang bersumber dari
hobinya sendiri nantinya dapat dikembangkan menjadi profesinya dimasa
mendatang. Program ini dapat menyalurkan berbagai bakat terpendam, sehingga
Indonesia dapat memiliki pelajar-pelajar yang mumpuni dan memiliki keahlian
tersendiri.
Entrepreneurship
merupakan salah satu program yang dapat meningkatkan soft skill selanjutnya. Program ini dapat dilakukan dalam semua
jenjang pendidikan di Indonesia, dengan entrepreneurship
Indonesia mampu menghasilkan pelajar-pelajar yang bermental pengusaha yang
kreatif adan inovatif, sehingga pola pikir pelajar di Indoinesia dapat berubah
yang dulunya setelah lulus sekolah menjadi pengawai, sekarang berpikir menjadi
seorang pengusaha dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain, pemerintah
seharusnya membuat peraturan pemerintah atau penambahan jam sekolah, yang menggajarkan
kewirausahaan atau mungkin sekolah dapat memberikan ekstrakulikuler tambahan
yang mengajak pelajar untuk melatih jiwa pengusaha dengan membuat suatu prioduk
yang dapat dijual. Program ini tentu dapat menjadi tolak ukur keberhasilan pendidikan
yang mana mengurangi jumlah pengangguran di masyarakat Indonesia. Hal positif
lainya yang dapat di peroleh dari kegiatan ini adalah Indonesia mampu menciptakan
lapangan pekerjaan bagi warganya, menginggat indeks wirausaha di Indonesia
masih jauh dari katagori negara maju yakni sebesar 0,2% - 0,3 % dari yang
seharusnya sebesar 2%. Program ini
memang harus dilakukan secara bersama-sama baik dari pemerintah, sekolah,
pelajar bahkan stakeholder (pemangku
kepentingan) terkait.
Berbagai upaya dan
tindakan untuk meningkatkan soft skill
pelajar-pelajar di Indonesia sudah saatnya diperhatikan dan dilaksanakan
segera, agar Indonesia dapat besaing dengan negara-negara lainya. Kemampuan soft skill mutlak diperlukan untuk
menghadapai masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun ini, kerjasama yang
dilakukan oleh Indonesia dengan negara-negara yang tergabung dengan ASEAN
hendaknya disikapi dengan positif dan dengan kesiap yang mumpuni, jangan sampai
negara kita menjadi tujuan ekspor
negara-negara lain dan warga negara kita sendiri menjadi penonton di negerinya.
Kerjasama antar bangsa memang dirasakan sangat penting, akan tetapi masuknya
kulturasi budaya perlu disaring jangan sampai budaya asing yang masuk merusak
tatanan sosial dan budaya ketimuran yang kita miliki. Peningkatan soft skill melaui penguatan keagamaan,
organisasi, minat bakat dan entrepreneurship
ini diharapakan pelajar bahkan pemuda diseluruh Indonesia mampu bekerja sama untuk mewujudkan Indonesia
yang lebih baik, terhindar dari KKN dan bersaing dengan pelajar dari negara
lain.










