Blog Rudi Hartono, Mengulas Seputar Pendidikan, Islam, Wirausaha, Petualangan, Fotografi, Kesehatan, Kuliner, Karya, Sastra, Rudi's Social Responsibility dan Ecoedupreneur

Mengukir Jejak Pendakian di Gunung Dempo

Pendakian Bersama Sahabat di Gunung Dempo 3.158 mdpl, yang Berada di Kota Pagaralam, Provinsi Sumatra Selatan, Indonesia.

Kupu-Kupu dan Bunga "Simbiosis Mutualisme"

Menyaksikan Keindahan Kupu-Kupu dan Bunga sebagai Bagian dari Mahluk Hidup Ciptaan Allah SWT yang Saling Bergantung Satu Sama Lainya.

Danau Kaco “Pesona Air Biru Safir” Sumber Kehidupan

Ekspedisi Danau Kaco (TNKS) di Desa Lempur Mudik, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci , Provinsi Jambi, Indonesia.

Cahaya Lembut Sang Surya Pagi Hari

Kedamaian dan Kesejukan yang Merelung Jiwa, Saat Berada di Sawah. Dusun Gunung Liwat, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatra Selatan, Indonesia.

Jejak Petualang “Ekspedisi Lahat”

Bahagia itu Sederhana, Ketika Kita Bisa Menyaksikan Keindahan Ciptaan Allah SWT dari Sudut Pandang Penjelajahan Alam Terbuka.

Sumber Air Pendaki Gunung Kerinci “Ekspedisi Jambi”

Sumber Air Jernih dan Dingin yang digunkana para Pendaki di Pos III Jalur Pendakian Gunung Kerinci (TNKS) Provinsi Jambi, Indonesia.

Melihat Bukit Selero (Gunung Jempol)

Bukit Selero yang Kokoh Terlihat Jelas dari Bukit Besar, Sementara di Sekeliling Masih Nampak Jelas Penambangan Batu Bara di Kabupaten Lahat.

Bunga Rupawan

Seperti "Bunga" : Kehidupan itu Sementara, Berusahalah Bahagia Selalu dan Membawa Kebermanfaatan Bagi Sekitar.

Mengabadikan Momen Berharga

Melalui Lensa Kamera “Mengabadikan Momen Berharga” dalam Setiap Perjalanan Hidupku. Sangat Senang Jika Hasilnya Bermanfaat untuk Orang Lain.

Bakti Sosial Bersama KMBP UNSRI

Kegiatan Bakti Sosial Dengan Membagikan Berbagai Sembako dan Melakukan Cek Kesehatan Gratis untuk Warga Desa Rimba Candi Kota Pagaralam.

Behind The Scene

Dibalik Layar Foto Angkatan Jurusan Psikologi '2013 Fakultas kedokteran Universitas Sriwijaya.

Pameran Kimia

Expo Pameran Mewakili Jurusan Kimia Fakultas MIPA UNSRI yang dilakukan Oleh Tim HIMAKI di SMA Negeri 1 Tanjung Raja, Ogan Ilir.

Pengumuman Pemenang OSN Pertamina

Peringkat III OSN Pertamina Bidang Kimia di Tingkat SUMBAGSEL (Sumatra Selatan, Bangka Belitung dan Lampung).

Perpisahan dengan Siswa

Foto Kenang-Kenangan Saat Hari Terakhir Mengajar Mata Pelajaran IPA Kelas IX.1, IX.2 dan IX.3 di SMP Negeri 1 Indralaya.

Bersih-Bersih Sampah

Kesadaran untuk Membuang Sampah pada Tempatnya dan Prilaku 3R Memang Sudah Seharusnya Menjadi Kebiasaan Warga Negara Indonesia.

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Agustus 2016

Pengalaman Berharga Workshop Jurnalis Trans7

Kelompok 3 bersama Mentor Produser Trans7
Belajar dapat berasal dari manapun, kapanpun dan dari siapapun. Hal ini menjadi sebuah keyakinan tersendiri bagi saya. Karena hobi dalam bidang fotografi dan vidiografi menuntun saya mengikuti salah satu kegiatan dari stasiun televisi nasional “Trans7”. Stasiun televisi ini merupakan saluran televisi favorite bagi saya karena menyajikan berbagai liputan, dokumenter dan program outdoor, seperti : Jejak Petualang, Jejak Anak Negeri, Jejak Si Gundul, Laptop si Unyil, Bolang, Dunia Binatang, Mancing Mania, Indonesia Ku, Orang Pinggiran, On The Spot, Khazanah, Ragam Indonesia, Ragam Dunia, dan beberapa program lainya. Program-program yang ditayangkan selalu mengispirasi, menambah pengetahuan dan mengeksplor kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia.
Dunia broadceasting atau pertelevisian masih menjadi hiburan paling diminati bagi semua kalangan masyarakat Indonesia. Peluang usaha dan karier dalam dunia ini masih terbuka lebar. Hal ini juga menjadi salah satu alasan saya mengikuti kegiatan workshop trans7 di Palembang yang di selengarakan pada tanggal 11 dan 12 Agustus 2016.  Alhamdulillah saya mendapatkan begitu banyak pengalaman dan pengetahuan baru akan dunia broadcasting mulai dari Dubbing, Kameramen (Campers), Drone, Menulis Berita, Editing, Etika Jurnalisme, Suka Duka menjadi Jurnalis, News Ancor dan berkesempatan bertemu dengan News Ancor Redaksi serta beberapa host program Tahu Gak sih dan Eksis Abis.
Berbagai kegiatan selama dua hari tersebut memang sangat menyita waktu, terlebih saya yang harus PP Indralaya – Palembang (berangkat setelah subuh dan pulang setelah Isak), namun saya sangat menikmati setiap proses dan pengalaman yang saya dapatkan dari kegiatan tersebut. Walaupun sebenarnya saya sedih karena tidak bisa menghadiri acara penting sahabat saya “Adhis” di FKIP Universitas Sriwijaya yang saat itu menjadi narasumber Seminar Beasiswa LPDP. Namun, semoga apa yang saya dapatkan dalam berbagai kegiatan tersebut dapat berguna dikemudian hari bagi saya dan lingkungan sekitar. Terlebih media elektronik saat ini sangat berpengaruh terhadap dunia.

Suasana Kelas Editing bersama Kru Trans7
Pada akhirnya kita semua harus bijak saat menonton televisi, karena akan berdampak negativ jika tidak didasari oleh kuatnya iman dan pengetahuan seseorang. Bagi saya televisi adalah kotak sihir manipulativ dan penghipnotis masal yang mampu mengubah prilaku seseorang tanpa disadari. So… Harus selalu memilih program atau acara yang akan ditonton bagi keluarga tersayang. 
Berikut ini hasil liputan kelompok 3 "Getek Palembang" dan liputan langsung saat workshop trans7 di Palembang saat berada di kelas Editing.





Share:

Sabtu, 06 Agustus 2016

Toba Lake Travel Story : Pesona Indonesia di Tanah Batak

Selamat Datang di Sumatra Utara
Danau Toba merupakan salah satu tujuan wisata terpopuler di Indonesia bagi wisatawan dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu, liburan kali ini saya memutuskan untuk traveling danau Toba yang merupakan danau terluas se Asia Tenggara. Perjalanan saya mulai dengan menggunakan pesawat dari Palembang menuju Medan. Setelah dua jam berada di pesawat, akhirnya saya tiba di Bandar Udara Internasional Kualanamu, ternyata bandara ini sangat megah dan besar, saya sangat takjub melihat sekeliling bandara ini. Saya keluar dan duduk kursi teras didepan ruang terminal kedatangan domestik sambil menunggu sobat trip saya kali ini dari Padang, namanya Danang dan Mardhi. Tepat pukul 09.45 WIB akhirnya mereka tiba, kami langsung bergegas mencari mini bus travel murah menuju Danau Toba. Mengingat di kota medan ada beberapa destinasi bangunan menarik, kami meminta pak supir untuk lewat Masjid Raya AL-Mashun Medan dan Istana Maimun. Rencananya setelah berpetualang dari Danau Toba kami akan Backpacker-an di Kota Medan beberapa hari. Tapi saat ini cukup melihat sekilas saja dulu, sekarang waktunya kami menikmati lima jam perjalanan menuju Danau Toba.
Foto di Danau Toba (Dokumentasi Pribadi Rudi Hartono)
Danau Toba, Penginapan Murah dan Makan Arsik
Matahari mulai meredup diufuk timur, pancaran sinar jingga menutupi langit dan memantulkannya kepermukaan air Danau Toba, sekilas kami terbawa keheningan sunset dari perbukitan. Sangat menakjubkan…! Itulah kata yang seketika terucap perlahan, bergegas saja saya menyiapkan kamera untuk mengabadikan momen langkah ini. Pukul 18.30 WIB akhirnya kami sampai di Parapat, kelurahan kecil dipinggiran Danau Toba, setelah menurunkan tas kami segera mencari penginapan murah yang harganya Rp. 140.000,-. Di Parapat memang sangat banyak ditemukan penginapan dari yang paket hemat hingga kelas mewah, semua terserah pada pilihan para pelancong yang datang. Setelah mendapatkan kunci kamar, saya membersikan diri dan menyempatkan diri untuk Sholat, setelah itu kami bergegas mencari makan, maklum perut kami belum terisi nasi sejak pesawat landing di Kualanamu. Dari kejauhan tampak rumah makan kecil, kami masuk dan melihat-lihat makanan yang ada dietalasenya.
“Bu, Ikan nila itu, besar-besar kali ikanya ?” tanya saya, sambal belajar Bahasa Batak.
“Iya Dek, ini Ikan nila dari tambak warga Danau Toba” dengan dialek Batak ibu menjelaskan.
Jenis ikan yang dijual memang terlihat besar-besar, karena air Danau Toba masih dalam kondisi baik. Malam ini kami sangat beruntung di rumah makan ini tersedia menu “arsik” yakni masakan ikan mas bumbu kuning, karena agak sulit berjumpa dengan masakan ini saat malam hari, yang menarik dari masakan ini adalah tambahan bumbu khas “merica batak” yakni buah andaliman. Oya… buah andaliman merupakan buah yang satu keluarga dengan jeruk-jerukan yang tidak pernah terlewatkan dalam masakan arsik maupun saksang, aroma jeruk yang lembut namun “menggigit” sehingga menimbulkan keluh atau mati rasa pada lidah. Rugi saya kalau tidak mencoba masakan khas Batak ini, rasanya pun “mantap kali”. Jika kalian berkunjung kesini harus mencoba masakan ini. Malam pun semakin larut, setelah makan dan menikmati suasana malam di Parapat, kami menuju penginapan, menyiapkan rencana traveling besok dan beristirahat.
Parapat : Geliat Wisata yang Tak Pernah Pudar
Pagi hari kami sudah menenteng tas dan berjalan kaki, tujuan traveling hari ini adalah jelajah Parapat. Parapat (Prapat dalam bahasa setempat) adalah sebuah kelurahan di kecamatan Girsang Sipangan Bolon, kabupaten Simalungun, Sumatra Utara. Tempat ini merupakan kawasan wisata pegunungan dan danau yang terkenal baik dalam maupun luar negeri, di Parapat kita dapat menikmati keindahan Danau Toba dari berbagai sudut, dan dari sini juga wisatawan dapat menyebrangi Danau Toba menuju ke Pulau Samosir.
Pada saat kami berkeliling Parapat, kami melihat banyak keramaian, ternyata pada hari Rabu berlangsung hari pasar sehingga kami dapat melihat berbagai barang yang dijual oleh pedagang. Sayang kami tidak datang pada bulan juni, karena pada pertengahan bulan selalu diadakan festival Danau Toba. Pada festival yang berlangsung selama satu minggu tersebut banyak kegiatan yag dilakukan, diantaranya pertunjukan kesenian Batak, perlombaan perahu dan berbagai pernak-pernik barang khas yang dijual.
Beberapa tempat wisata lainya yang bisa dikunjungi di Parapat adalah Pantai Kasih, Pantai Ujung, dan Batu Gantung, ketiga pantai tersebut merupakan tempat dimana kita bisa berenang dan menikmati sejuknya air Danau Toba. Di parapat juga terdapat rumah pengasingan mantan Presiden RI yang pertama, Sukarno, meski tidak banyak orang yang tahu keberadaanya. Selain itu, jika tertarik dengan kain tradisional Batak, yang dikenal sebagai kain ulos kita dapat membelinya di Parapat atau di Pulau Samosir, sementara untuk sentra penenunan kain ulos berada di Desa Labuhan Garaga, sekitar 25 km dari parapat.
Lelah berkeliling Parapat, kami pulang menuju penginapan kembali. Sinar matahari sore lembut menyapa kami, sunset di Danau Toba begitu mempesona. Besok perjalanan kami pasti lebih seru dan menyenangkan di Pulau Samosir.
Pulau Samosir : Pulau Unik Penuh Pesona
Pagi-pagi sekali kami sudah berada di pelabuhan Ajibata untuk melanjutkan traveling ke Pulau Samosir, Di Parapat ada dua pelabuhan yang akan membawa penumpang ke pulau samosir yakni pelabuhan Ajibata dan pelabuhan Tigaraja. Penyeberangan dengan kapal feri memakan waktu sekitar 30 menit, kami sangat menikmati suasana. Foto-foto dan melihat hamparan bukit hijau disekitar Danau Toba. Oya… Danau Toba memiliki luas 1.130 kilometer persegi dan kedalaman sekitar 505 meter. terbentuknya danau menakjubkan ini diperkirakan karena ledakan sekitar 75.000 tahun lalu yang berasal dari letusan supervolcan.
Bersandarnya kapal di dermaga menandakan bahwa kami telah sampai di pulau Samosir, Tuk-Tuk nama pelabuhannya. Sambil berjalan mencari penginapan murah, kami menyempatkan diri berfoto bersama. Wah…! begini rasanya berada di pulau dalam pulau, menakjubkan, apalagi warga disini sangat ramah-ramah. Pulau samosir sendiri memiliki luas 630 kilometer persegi, memiliki panorama yang sangat Indah. Disini banyak penjual souvenir, cindramata dan oleh-oleh khas pulau Samosir.
Danau Toba telah menjadi pariwisata unggulan di Sumatra Utara, yang banyak membantu perekonomian warga setempat, sehingga warga memiliki penghasilan tambahan selain dari pertanian dan perikanan. Di pulau Samosir nuansa Batak begitu terasa, terlihat dari bangunan di setiap rumah warga. Jika kita pergi ke desa Tomok maka kita akan menjumpai rumah Bolon yang penuh dengan unsur kebudayaan Batak. Suasana magis juga terasa di pulau Samosir, hal ini terlihat pada banyaknya makam-makam di sekitar pulau, makam ini juga unik dan memiliki ciri khas tersendiri sesuai marga dan status keluarganya. Kuburan bagi masyarakat adat pulau Samosir merupakan prasasti atau monumen yang sangat berharga, sebagai wujud penghormatan mereka terhadap pendahulunya.
Berbagai wisata lainya yang dapat kita nikmati di pulau ini seperti tarian Si Gale-Gale, melihat makam para raja yang tersebar di pulau samosir, pemandian air panas Samosir, air terjun Simangade, bukit Beta, Aek Natonag dan berbagai wisata lainya yang penuh nilai kebudayaan dan sejarah. Selain itu keindahan alam di pulau Samosir jangan sampai terlewatkan. Urusan oleh-oleh, souvenir dan cindramata di pulau Samosir juaranya, sudah banyak yang menjual dengan harga yang cukup terjangkau dan murah.
Dua hari sudah kami berada di pulau Samosir, waktunya untuk melanjutkan perjalanan ke kota Medan, kami pun bergegas pulang dengan naik kapal feri dari pelabuhan Tuk-Tuk. Perjalanan kali ini banyak memberikan kesan yang mendalam, pelajaran dan pengalaman berharga. Danau Toba memberikan berjuta manfaat dan menghidupkan perekonomian bagi warga yang tinggal dan menetap disana. Daerah ini memiliki kebudayaan unik dan cita rasa kuliner khas yang hanya bisa kita temui disini. Tidak cukup rasanya empat hari menjelajah di danau Toba. Suatu hari nanti kami pasti datang kembali untuk menjelajahi pesona terbaik Indonesia di pulau Sumatra Utara ini.
Share:

Sabtu, 23 Januari 2016

Implementasi Delapan Pilar Pembangunan Kebudayaan Indonesia

IMPLEMENTASI DELAPAN PILAR PEMBANGUNAN KEBUDAYAAN INDONESIA SEBAGAI STRATEGI PEMBANGUNAN NASIONAL

Oleh : Rudi Hartono

Salah Satu Tarian di Tanah Toraja (Image from www.torajaparadise.com)
Indonesia dikenal sebagai Zamrud di khatulistiwa,  memiliki luas wilayah keseluruhan 5.193.252 km2 (Muzakir, 2006), terdiri dari 13.466 pulau-pulau yang tersebar di nusantara (kementrian kelautan dan perikanan, 2010). Setelah mengetahui hal tersebut, pernahkah kita membayangkan “betapa luasnya tanah air kita ?” dan “berapa banyak  jumlah suku dan bahasa di Indonesia ?”  Hal ini sangatlah menarik mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia memiliki sekitar 1.128 suku (http://www.jpnn.com) dengan jumlah bahasa daerah tidak kurang dari 749 bahasa (http://print.kompas.com). Oleh karena itu Indonesia memiliki harta yang tidak ternilai  harganya, yakni “kebudayaan” yang begitu banyak, berbagai kebudayaan tersebut terlihat dari keanekaragaman bahasa, seni, kearifan lokal (adat istiadat), warisan budaya, religi, dan falsafah hidup.
Negara sebenarnya telah menjamin kebudayaan yang ada di Indonesia, hal ini tercantum dalam pasal 18 B undang-undang dasar 1945 ayat ke 2 menyatakan bahwa “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang”. Serta, pasal 32 undang-undang dasar 1945 ayat ke 1 dan 2 menyatakan “(1) Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya. (2) Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional”. Sehingga pada tahun 2013, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia merumuskan rencana induk nasional pembangunan kebudayaan (RPINK) yang berisi delapan pilar pembangunan kebudayaan Indonesia, terdiri dari enam pilar utama yakni pelestarian hak berkebudayaan, pembangunan jati diri dan karakter bangsa, penguatan multikulturalisme, pelestarian sejarah dan warisan budaya, pengembangan industri budaya, penguatan diplomasi budaya. Dua pilar pendukung yakni, pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan perantara kebudayaan, serta pengembangan sarana dan prasarana budaya. Bagaiman implementasi kedelapan pilar tersebut dapat menjadi strategi pembangunan nasional yang pada akhirnya dapat menciptakan kesejahteraan rakyat Indonesia dan melindungi, memanfaaatkan, melestarikan serta mengembangkan kebudayaan nasional.
Pilar pertama, pelestarian hak kebudayaan merupakan tindakan yang memberikan hak dan kewajiban perlindungan,  pengembangan dan pemanfaatan untuk pelestarian kebudayaan baik di tingkat pemerintah daerah dan masyrakat sebagai sasaran utamanya.  Peraturan bersama mentri dalam negeri dan mentri kebudayaan dan pariwisata no 42 dan 40 tahun 2009 sebenarnya telah menjelaskan bagaimana upaya pelestarian kebudayaan. Pemerintah daerah dalam hal ini merupakan pengemban amanah untuk melakukan pelestarian kebudayaan secara menyeluruh, akan tetapi hal ini masih belum terlihat implementasinya. Sementara itu beberapa faktor yang menyebabkan lemahnya pelestarian hak kebudayaan di masyarakat dikutip dari RIPNK KEMENDIKBUD tahun 2013 diantaranya, masih rendahnya kesadaran berdemokrasi, sportivitas, rasa empati, toleransi terhadap kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat, dan masih banyak hal lainya. Sehingga perlu kesadaran penuh baik di masyarakat dan pemerintah daerah untuk pelestarian hak berbudaya. apabilah fungsi ini dijalankan dengan baik dan terarah tentu akan menjadikan kebudayaan Indonesia semakin terpelihara, termanfaatkan, bahkan bertambah.
Pilar kedua, pembangunan jati diri dan karakter bangsa. Saat ini Indonesia seperti kehilangan jati diri dan karakternya sendiri, ini terlihat nyata di berbagai segi kehidupan bermasyarakat, diantaranya daya juang yang rendah, sportivitas menurun, prilaku konsumtif, kreatifitas yang rendah, dan lunturnya nilai-nilai kearifan lokal (RPINK KEMENDIKBUD, 2013). Berbagai faktor ini tentu harus diselesaikan dengan segera, jangan sampai kebudayaan Indonesia hilang di telan zaman. Oleh karena itu, diperlukan pembangunan jati diri dan karakter bangsa melalui rasa pendidikan, rasa nasionalisme, dan patriotisme yang kuat untuk mempertahankakan integeritas tanah air tercinta.
Pilar ketiga, Penguatan multikulturalisme, merupakan salah satu bagian pembangunan kebudayaan yang sangat dibutuhkan, mengingat banyaknya suku yang ada di Indonesia. Beberapa faktor yang dapat mengganggu penguatan multikulturalisme adalah rendahnya apresiasi budaya, fundamentalisme agama dan pengelompokan (RPINK KEMENDIKBUD, 2013). Apabila multikulturalisme ini disalah artikan maka akan sering sekali terjadi konflik baik vertikal maupun horizontal. Karena perbedaan cara pandang yang makin memperlemah rasa multikulturalisme. Pendidikan yang berwawasan multikulturalisme (Widisuseno, 2012) dan menumbuhkan rasa kebersamaan merupakan salah satu upaya penguatan jati diri bangsa. Harapannya kita semua bangga terhadap kebhinekaan yang ada di Indonesia, sesuai dengan  kitab sutasoma karangan Mpu Tantular / Empu Tantular yakni “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya “berbeda-beda tetapi satu jua”. Secara mendalam Bhineka Tunggal Ika memiliki makna walaupun di Indonesia terdapat banyak suku, agama, ras, kesenian, adat, bahasa, dan lain sebagainya namun tetap satu kesatuan yang sebangsa dan setanah air (http://www.erepublik.com), dan semua itu menjadikanya kekayaan budaya nusantara yang tidak dimiliki oleh negara lainya.
Pilar keempat, Pelestarian sejarah dan warisan budaya. Indonesia memiliki berjuta sejarah dan warisan budaya yang sudah sepatutnya dijaga dan dikelola dengan baik. akan tetapi, begitu banyak penghambat pelestarian sejarah dan warisan budaya misalnya, rendahnya program-program pelestarian, kurangnya pendanaan untuk pelestarian, kepedulian dan peran serta masyarakat yang kurang, serta dukungan pemerintah terhadap pelestarian masih sangat minim (RPINK KEMENDIKBUD, 2013). Permasalahan ini dapat diatasi dengan menumbuhkan kesadaran individu, kelompok bahkan pemerintah daerah untuk mulai peduli terhadap sejarah dan warisan budaya yang ada di lingkungan sekitar, baik melalui perawatan, dokumentasi dan upaya lainya yang sifatnya melakukan pelestarian. Beberapa hal yang dapat dilestarikan adalah sejarah, benda cagar, alat tradisi, dan bahasa atau aksara  daerah.
Pilar kelima, pengembangan industri budaya. disadari atau tidak pengembangan industri budaya masih sangat minim dilakukan, padahal akan berdampak pada pembangunan kebudayaan dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Hal ini akibat dari masih rendahnya jiwa berwirausaha masyarakat, minimnya pelatihan dan pendampingan, pengembangan industri kreatif yang masih rendah, dan keterbatasan keahlian sumber daya manusia (RPINK KEMENDIKBUD, 2013). Apabila permasalahan tersebut dapat teratasi dengan baik, maka kesejahteraan masyarakat pasti meningkat dengan drastis dan pendapatan devisa negara akan naik dari wisatawan luar negeri yang datang untuk menyaksikan kebudayaan Indonesia. Contoh pengembangan industri budaya adalah kerajinan, barang seni, kuliner khas daerah, pengobatan tradisonal dan pertunjukan seni baik dilakukan dalam kegiatan atau di objek wisata tertentu.
Pilar keenam, penguatan diplomasi budaya. Pembangunan kebudayaan Indonesia juga tidak terlepas dari kegiatan berdiplomasi, beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk peningkatan pembangunan kebudayan melalui pilar ini seperti, penigkatan terdaftarnya budaya Indonesia di UNESCO dan perbaikan citra Indonesia di mata bangsa lainya. Agar  negara-negara lainya tertarik datang ke Indonesia karena budaya dan citra baik yang dibangun oleh Indonesia dari semua segi kehidupan yakni sosial (keamanan dan keramahan) dan ekonomi. Cara lainya adalah dengan melakukan perjanjian bilateral antara Indonesia dengan negara lainya untuk meningkatkan wisatawan asing dari luar negeri. Langkah tersebut pasti ampuh untuk mengundang wisatawan domestik maupun mancanegara.
Pilar ketujuh, yakni pilar pendukung pembangunan kebudayaan Indonesia adalah dengan pengembangan sumber daya manusia dan perantara kebudayaan. Sudah sepatutnya kebudayaan menjadi perhatian utama pemerintah daerah, sehingga akan terbentuk kuantitas dan kualitas kelembagaan budaya, yang berdampak pada kuatnya koordinasi pemerintah pusat dengan daerah atau wilayah, hal ini merupakan peningkatan prantara kebudayaan. Sementara disisi pengembangan sumber daya manusia, diperlukan regenerasi sumber daya manusia untuk mempercepat tumbuhnya kebudayaan yang berkwalitas, tetapi juga perlu diperhatikan upaya peningkatan kualitas, kreatifitas dan propesionalitas sumber daya manusia (RPINK KEMENDIKBUD, 2013), agar terciptanya kebudayaan yang mumpuni dan kuat, terutama persiapan dalam menghadapi pasar bebas ASEAN 2015.
Pengembangan sarana dan prasarana budaya merupakan pilar terakhir yang diperlukan untuk melakukan pembangunan kebudayaan Indonesia, hal ini dapat dilakuakan dengan peningkatan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana kebudayaan, penggunaan teknologi moderen serta pemerataan sarana dan prasarana budaya (RPINK KEMENDIKBUD, 2013). Contohnya adalah pemerintah diharapkan menyediakan museum, galeri seni dan budaya, gedung pameran dan bagunan lainya yang memfasilitasi keberadaaan kebudayaan tersebut, Sehingga kebudayaan yang ada tidak terbengkali begitu saja karena ketidak tersediaan tempat.
Delapan pilar pembangunan kebudayaan Indonesia RIPNK KEMENDIKBUD tahun 2013 merupakan gagasan yang sangat baik dalam strategi pembangunan nasional, hal ini juga perlu didukung oleh arah kebijakan pemerintah dan strategi pembangunan kebudayaan yang tepat.  Hal yang perlu diingat, walaupun di Indonesia terdapat banyak suku, agama, ras, kesenian, adat, bahasa, dan lain sebagainya namun tetap satu kesatuan yang sebangsa dan setanah air “Bhinneka Tunggal Ika”. Berbagai permasalahan kebudayaan yang muncul sepatutnya menjadi kewajiban kita bersama untuk melakukan perbaikan, pengembangan, peningkatan dan pemanfaatan budaya dalam upaya pembangunan nasional yang berasal dari keragaman kebudayaan Indonesia guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia dan pelestarian budaya nusantara.

Share:

Terimakasih Ku

Lahirku terasa baru kemarin
Saat diperdengarkan kisah ku kecil
Penuh kehangatan dan kebahagiaan
Walau besar di desa terpencil

Ya...
Hidup dalam kesederhanaan
Gubuk tua di tenggah ladang
Tanpa lampu dan cahaya penerangan
Keheningan saat malam datang
Ayah dan Ibu (Ilustrasi From www.ceritamu.com)

...
20 tahun sudah usia ku
Semua terasa begitu singkat
Kala ku lihat kedua orang tua ku
Penuh guratan diwajah
Telah beruban dan semakin menua

Terlintas jelas perjuangan mereka
Ingin menjadikan ku anak berpendidikan
Mengubah takdir keluarga
Dan berguna bagi bangsa

Aku bersyukur...

Aku bersyukur, dapat melihat mereka
Masih tersenyum saat aku tiba

Sungguh ingin ku bahagiakan mereka
Membalas kasih sayang dan semua jasa
Lebih dari apa yang mereka lakukan pada ku

Ku janjikan suatu hari nanti...

Indralaya, November 2015

Karya : Rudi Hartono
Share:

Selasa, 12 Januari 2016

Impian Ku Tentang Pendidikan di Indonesia

MIMPI (Image from http://langitilahi.com)
Pendidikan di Indonesia saat ini masih mengalami banyak permasalahan baik di kota maupun pedesaan. Diantaranya, kekerasan terhadap peserta didik, kesenjangan pendidikan antara sekolah di perkotaan dan di desa, kurangnya sarana dan prasarana sekolah, banyak sekolah yang kondisinya rusak, akses ke sekolah yang jauh, kurangnya guru di daerah tertingal atau perbatasan, dan moral sebagian peserta didik yang jauh dari harapan dan cita-cita pendidikan di Indonesia karena melakukan hal-hal yang negatif.
Dibalik permasalahan pendidikan diatas, kita masih bisa menghirup angin segar dengan berbagai prestasi yang diukir oleh siswa-siswi terbaik Indonesia, misalnya juara di berbagai kompetisi di tingkat daerah, nasional bahkan Internasional. Siswa-siswi Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan yang luar biasa, tidak hanya pandai dibidang akademik, mereka juga terbukti memiliki kemampuan seni, olahraga ataupun teknologi. Sekarang semua tergantung kepada pemerintah dan kita semua, agar kemampuan dan bakat luar biasa anak-anak Indonesia dapat tersalurkan dan pada akhirnya membawa Indonesia menjadi lebih baik dan mampu bersaing di tingkat Internasional.
Saya yakin, pendidikan di Indonesia suatu hari nanti akan menjadi lebih baik. Kita semua memiliki impian yang sama akan wajah pendidikan di Indonesia. Yakni, semua sekolah yang layak di nusantara, akses sekolah yang dekat dan aman, guru ada disemua pelosok negeri dengan kemampuan yang mumpuni dan bertangung jawab, tidak ada lagi anak Indonesia yang putus sekolah karena tidak ada biaya, tidak ada lagi kekerasan terhadap pelajar, tidak ada lagi pelajar yang tawuran atau berkelahi, pelajar Indonesia memiliki safat jujur, disiplin dan cinta tanah air, dan pada akhirnya tidak ada lagi warga negara Indonesia yang buta huruf. Pelajar Indonesia merupakan aset termahal dari bangsa ini, mereka adalah hari esok bangsa Indonesia. Dengan pendidikan yang baiklah kita dapat menjadikan mereka sebagai pelajar terbaik untuk kesejahteraaan dan kemajuan Indonesia dimasa mendatang.

Dikirim ke #MENYAPANEGERIKU

Share:

Toleransi Beragama untuk Persatuan Indonesia

Negara Kesatuan Republik Indonesia dikenal sebagai zamrud khatulistiwa dimata dunia dengan luas wilayah 5.193.252 km2 (Muzakir, 2006), memiliki jumlah penduduk 237.641.326 jiwa menurut data resmi sensus penduduk 2010 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik, dengan enam agama yang dianut oleh penduduk Indonesia, yakni; Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha dan Kong Hu Cu. Sila pertama dalam pancasila Indonesia yakni “ketuhanan yang maha Esa” sebenarnya sejalan dengan banyaknya keyakinan tersebut, bahwa negara mengakui adanya sang pencipta (Tuhan) sesuai keyakinan masing-masing penduduk di Indonesia.
Kerukunan antar Umat Beragama (Foto from http://pgi.or.id)
Kebebasan berkeyakinan setiap penduduk  di Indonesia dijamin oleh negara sesuai pasal 28 E ayat 1 UUD 1945 yang berbunyi “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadah menurut agamanya, .....”. Oleh karena itu, hendaknya berbagai paham dan keyakinan yang dimiliki oleh Indonesia tidak menjadi pemecah persatuan dan kesatuan Republik Indonesia, seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Sikap toleransi beragama hendaknya dijadikan pondasi utama agar penduduk Indonesia saling menghormati dan menghargai antar pemeluk beragama. Toleransi harus ditanamkan sejak dini pada setiap anak-anak Indonesia, agar tidak mudah terpropokasi dan terhasut oleh pihak-pihak yang ingin persatuan kesatuan Indonesia hancur.
Banyaknya keyakinan di Indonesia sebenarnya telah menjadi contoh yang nyata bagi dunia Internasional mengenai toleransi beragama, sikap saling mengahargai antar agama harus terus dijaga, agar tidak terjadi perpecahan di Indonesia. Sikap toleransi dan saling menghargai akan menjadikan Indonesia sebagai negara yang hebat, santun dan menumbuhkan sikap gotong royong serta saling tolong menolong. Perbedaan keyakinan atau pendapat yang terjadi di Indonesia akan menjadi keberagamaan tersediri dan memperkaya khasanah kebudayaan di Indonesia. 
Share:

Senja

Senja (Image from njajali-jajalan.blogspot.com)
Kidung senja terpancar meredup di upuk timur
Derikan jangkrik mulai samar terdengar
Diliputi mengemanya suara adzan
Saat itulah pintu dan jendela rapat tertutup

Riuh gemuruh terganti sunyi
Cahaya kekuningan menjadi putih kehitaman
Rapih terlihat santri bergandengan
Menuju surau disudut Pedesaan
Menuntut ilmu kala malam datang

Yogyakarta, 29 November 2015
Karya : Rudi Hartono
Share:

Mengatasi Permasalahan Anak-Anak Indonesia

“Mengatasi Permasalahan Anak-Anak Indonesia”
by : Rudi Hartono

Pembangunan Indonesia tumbuh begitu pesat disertai dengan perkembangan teknologi yang cangih, yang secara tidak langsung mulai mempengarui mentalitas dan moral anak bangsa cendrung menurun. Padahal masa depan Indonesia bergantung pada anak-anak, karena yang akan memimpin negara ini suatu hari nanti adalah mereka. Pernyataan ini didukung oleh undang-undang no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, yakni dalam salah satu point pertimbanganya berbunyi “Bahwa anak adalah tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan”. Undang-undang nomor 23 tahun 2002 sebenarnya merupakan payung perlindungan anak. Akan tetapi kenyataanya begitu miris, karena kita sering mendengar kabar-kabar kekerasan mengenai anak. Berbagai masalah tentang ketidakadilan, pelecehan seksual, kekerasan dan kesejahteraaan anak mulai terkuak satu demi satu dan tidak pernah sepi dari pemberitaan media cetak dan elektronik.

Generasi Masa Depan (Image by http://savechildrennepal.org/)
Pendidikan dan kesejahteraan dan anak-anak juga diatur dalam udang-udang nomor 23 tahun 2002, akan tetapi kenyataanya berbanding terbalik. Menurut pengamat pendidikan, Muhammad Zuhdan, sebagaimana dilansir suaramerdeka.com, 09/03/2013, mengatakan bahwa tahun 2010 tercatat terdapat 1,3 juta anak usia 7 – 15 tahun di Indonesia terancam putus sekolah. Tingginya angka putus sekolah ini, salah satunya akibat mahalnya biaya pendidikan. Tentu saja kondisi ini sangat memprihatinkan, mengingat bahwa seluruh anak di Indonesia harus memperoleh pendidikan dasar minimal 12 tahun (jenjang SD – SMA). Tak jauh berbeda dengan rendahnya kesejahteraan anak-anak di Indonesia, karena Jumlah balita yang kekurangan gizi di Indonesia saat ini sekitar 900 ribu jiwa. Jumlah tersebut merupakan 4,5 persen dari jumlah balita Indonesia, yakni 23 juta jiwa (indonesiafightpoverty.com). Miris sekali bukan ?, berbagai permasalahan lainya tentang anak juga semakin banyak saat ini, seperti kekerasan, eksploitasi, penganiayaan, pelecehan seksual, pemerkosaan dan penelantaran.
Permasalahan diatas muncul karena pengaruh lingkungan sekitar yang buruk, kemiskinan, pola asuh orang tua dan regulasi peraturan pemerintah yang begitu lemah. Kita tentu tidak mau Indonesia semakin terpuruk akibat dari rusaknya anak-anak tunas bangsa. Anak-Anak Indonesia harus dilindungi, diayomi dan diberikan hak-haknya, agar mereka bahagia dan menikmati masa anak-anaknya sehingga masa depan Indonesia cerah dan jauh lebih baik dari saat ini. Penyelesaian permasalahan yang menyangkut anak-anak dapat dilakukan dengan pendidikan, perbaikan pola asuh orang tua, lingkungan sekitar dan regulasi pemerintah yang dibenahi untuk melindungi anak-anak Indonesia. Hal ini dijelaskan juga dalam undang-undang nomor 23 tahun 2002 bab IV pasal 20 yang berbunyi “Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak”.
Pendidikan begitu penting bagi anak-anak Indonesia, melaui pendidikan anak Indonesia akan cerdas, akan tetapi bagaimana pendidikan yang baik untuk Indonesia ?, pendidikan yang baik sebenarnya tidak hanya bergantung pada sisi akademik, akan tetapi anak-anak perlu ditanamkan sifat moral yang mengakar, mengingat Indonesia adalah penduduk terbanyak dengan penganut Islam terbesar dunia jumlahnya sekitar 85 % dari jumlah total penduduk Indonesia. Sudah sepatutnya anak-anak indonesia memegang teguh sifat kejujuran, rasa saling menghargai, disiplin dan hal moril lainya, agar kelak saat dewasa mereka tidak egois bahkan tidak korupsi. Beberapa sekolah di Indonesia sudah mencantumkan kurikulum yang berbasis ESQ (Emotional Spiritual Quotient) sehingga anak tidak hanya pintar dalam akademik, tapi juga tingkat spritual (nilai agama), Kemandirian, Soft Skill dan jiwa entrupreneursip ditanamkan. Tentu ini merupakan salah satu cara perbaikan kurikulum pendidikan Indonesia untuk kebaikan anak-anak.
Orang tua juga memegang adil paling utama untuk melindungi dan mengayomi anak-anak, orangg tua yang baik tentu akan mendidik anaknya menjadi generasi yang baik pula. Pola perhatian, kasih sayang, liburan bersama dan rutinitas komunikasi perlu di tingkatkan agar anak-anak menjadi pribadi yang baik dan tidak terjerumus dalam sisi gelap. Orang tua juga mampu melindungi anak dari efek buruk lingkungan sekitar, dengan melarang atau menjelaskan hal hal yang tidak baik terhadap anak sehingga anak tidak terpengaruh oleh lingkungan yang buruk.
Kondisi lingkungan sekitar sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak, anak yang bergaul dengan remaja tentu memiliki kecendrungan sifat yang dewasa, anak yang bergaul dengan perokok biasanya akan ikut-ikutan menjadi perokok. Oleh karena itu pemilihan lingkungan tempat anak berada memang sepatutnya diperhatikan dan diketahui dengan pasti dengan tujuan anak tidak berada pada lingkungan yang buruk. Tentunya pola pendidikan dari orang tua dan sekolah yang baik akan memproteksi anak dari hal-hal yang berdampak negatif bagi anak.
Lemahnya regulasi pemerintah dituding sebagai penyebab dari permasalahan anak-anak saat ini, peraturan yang tidak dijalankan dengan baik menjadikan banyaknya kekerasan terhadap anak sperti penganiayaan, pemerkosaan dan eksploitasi serta rusaknya ahlak anak karena media cetak maupun elektronik (Televisi dan Internet). Pemerintah melalui badan penegak hukum sepatutnya memberihan hukuman yang berat kepada pelaku kekerasan, penganiaya dan pemerkosa agar anak-anak Indonesia tidak lagi menjadi korban tindak kejahatan. Sementara itu perlindungan anak  terhadap media media cetak maupun elektronik selayaknya menjadi prioritas utama penyelesaian masalah lainya, karena anak-anak saat ini kebanyakan meniru adegan dari media-media tersebut, beberapa dampak media televisi dan internet seperti kekerasan yang disebabkan melihat adegan sinetron, pemulukan yang ditiru dari adegan game yang dimainkan melaui game online, anak-anak yang lebih suka menyayikan lagu orang dewasa ketimbang lagu anak karena minimnya acara anak di televisi, video porno sangat mudah diakses oleh anak. Penegakan peraturan pelarangan tayangan yang merusak ahlak dan tingkah anak sebaiknya dilakukan dengan pemblokiran situs-situs yang dikhawatirkan dapat berdampak negatif terhadap anak dan pelarangan serta pemberian sanksi acara televisi yang melibatkan adegan yang juga berdampak negatif bagi anak. Pemerintah memang harus tegas dalam semua aspek tersebut, dengan harapan anak Indonesia akan terselamatakan dari perusakan moral oleh media.
Akhirnya kita semua berharap generasi tunas bangsa kita terlindungi dari kekerasan, penganiayan, pelecehan seksual, perusakan moral dari media cetak maupun elektronik (televisi dan internet). Karena tugas kita bersama untuk melindungi  calon pemimpin bangsa ini, agar mereka diberikan hak pendidikan dan kesehatan, kesejahteraan dan kebahagian  sehingga memiliki karakter yang kuat untuk memimpin tanah air tercinta ini menuju era yang lebih baik.

Daftar Pustaka
Undang-undang nomor 23 tahun 2002.
http://www.indonesiafightpoverty.com/2014/04/01/indonesia-masih-dihantui-kasus-gizi-buruk/
http://www.law.yale.edu/rcw/rcw/jurisdictions/asse/indonesia/Indon_Child_Prot.htm
http://edukasi.kompasiana.com/2013/12/24/tingginya-angka-putus-sekolah-di-indonesia-622368.html
Share:

Jumat, 01 Januari 2016

Pentingnya Soft Skill

Pentingnya Soft Skill Pelajar dalam Proses Pembelajaran dan Pendidikan di Indonesia Guna Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) untuk Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)
by : Rudi Hartono

Belajar merupakan salah satu proses agar manusia menjadi cerdas dan mampu menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada. Pendidikan dan belajar merupakan hak bagi setiap warga negara di Indonesia. Karena masih banyak permasalahan yang terjadi dalam sistem pendidikan Indonesia, oleh karena itu perbaikan pendidikan di Indonesia mutlak harus di lakukan, permasalahan tersebut terlihat dari ketidak jujuran pelajar dalam ujian, bulliying, tawuran, dan sebagainya. Pelajar di Indonesia terekesan hanya diarahkan menjadi pekerja atau buruh, ini menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara konsumen terbesar di dunia, pelajar yang telah lulus hanya menjadi pekerja di berbagai perusahan, jarang sekali yang berminat berwirausaha dan membuka lapangan pekerjaan. Pola pembelajaran Indonesia sudah sepatutnya dibenahi dan diperbaiki, sehingga pelajar Indonesia lebih inovatif, kreatif dan mampu bersaing dengan pelajar negara lain. Salah satu proses perbaikan pola pikir (mind side) dan prilaku pelajar di Indonesia dapat dilakukan dengan peningkatan soft skill.
Smart Soft Skill (Image from Ist.Greenville.Edu)
Soft skill merupakan kemampuan, minat dan bakat yang dimiliki setiap manusia baik yang sifatnya personal atau interpersonal. Pendidikan yang bernuansa soft skill  sudah selayaknya menjadi pembelajaran yang harus ditambahkan di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas bahkan perguruan tinggi. Pemerintah memang harus bekerja keras untuk melaksanakan hal ini, kerjasama antar lembaga tentunya dapat menjadi faktor yang terpenting agar program ini dapat dilakukan, peningkatan soft skill  pelajar dapat terbagi dalam banyak aspek mendasar, diantaranya dengan pembelajaran agama, organisasi, minat bakat dan entrepreneurship. Proses ini bila dijalankan dengan baik akan membawa dampak positif bagi pendididkan di Indonesia dan menjadikan pelajar Indonesia lebih berkarakter.
Pembelajaran agama tentu menjadi dasar utama bagi setiap pelajar bahkan warga negara Indonesia pada umumnya, karena dengan agama kita akan mengetahui mana yang baik dan buruk serta menjadi batasan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hal ini sangat penting mengingat semakin rusaknya moral pelajar indonesia, mulai dari ketidak jujuran dalam ujian, pencurian, tawuran bahkan sampai ketindakan seks bebas. Penguatan agama dapat dilakukan dalam setiap jenjang pendidikan, agar berbagai permasalah tersebut dapat teratasi dengan baik. Pelaksanaan pembelajaran agama memang memerlukan waktu khusus di sekolah, contoh nyata program ini dilakukan di negara Turki beberapa tahun terakhir ini, Indonesia tentu dapat mencontoh keberhasilan negara lain dalam melaksanakan program tersebut, agar pelajar Indonesia lebih bermoral dan menjadi penurus bangsa yang baik serta amanah.
Organisasi merupakan wadah bagi pelajar uttuk mengembangkan kemampuanya. Organisasi yang paling umum seperti PMR dan Pramuka yang terbukti ampuh mengasah soft skill  anggotanya dan menciptakan kerjasama dan rasa nasionalisme. Organisasi pelajar ini juga perlu perhatian khusus agar dapat tersalurkan dengan baik, tentu butuh pengorbanan baik dari sekolah untuk melakukan pembinaan dan pelatihan yag memadai, selain itu memang perlu dilakukan suatu kegiatan rutin yang sifatnya regional bahkan nasional untuk menunjang berbagai kegitatan organisasi-organisasi ini, mengingat dari organisasi inilah pelajar berlatih bagaimana menyelesaikan permasalahan, berdisikusi, dan berbicara (menyampaikan pendapat). Dari organisasilah banyak pemimpin baru terlahir dan dengan organisasi juga akan melahirkan rasa saling tolong-menolong dan kerjasama tim yang saat ini sebenarnya mulai luntur di masyarakat perkotaan pada khususnya.
Minat dan Bakat menjadi faktor peningkatan soft skill lainya, berbagai minat bakat misalnya; menyanyi, menari, melukis, memasak dan lainya, memang harus diberikan wadah khusus agar tersalurkan dengan baik. Pelaksanaan program ini dapat dilakukan di tingkat sekolah atau daerah, dengan pembuatan tempat kursus atau organisasi yang sifatnya gratis dengan berbagai pelatihan dan penyaluran bakat. Program ini dapat menjadi wadah yang menghasilkan pelajar yang memiliki sifat kratif dan inovatif, kedepan kemampuan yang bersumber dari hobinya sendiri nantinya dapat dikembangkan menjadi profesinya dimasa mendatang. Program ini dapat menyalurkan berbagai bakat terpendam, sehingga Indonesia dapat memiliki pelajar-pelajar yang mumpuni dan memiliki keahlian tersendiri.
Entrepreneurship merupakan salah satu program yang dapat meningkatkan soft skill selanjutnya. Program ini dapat dilakukan dalam semua jenjang pendidikan di Indonesia, dengan entrepreneurship Indonesia mampu menghasilkan pelajar-pelajar yang bermental pengusaha yang kreatif adan inovatif, sehingga pola pikir pelajar di Indoinesia dapat berubah yang dulunya setelah lulus sekolah menjadi pengawai, sekarang berpikir menjadi seorang pengusaha dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain, pemerintah seharusnya membuat peraturan pemerintah atau penambahan jam sekolah, yang menggajarkan kewirausahaan atau mungkin sekolah dapat memberikan ekstrakulikuler tambahan yang mengajak pelajar untuk melatih jiwa pengusaha dengan membuat suatu prioduk yang dapat dijual. Program ini tentu dapat menjadi tolak ukur keberhasilan pendidikan yang mana mengurangi jumlah pengangguran di masyarakat Indonesia. Hal positif lainya yang dapat di peroleh dari kegiatan ini adalah Indonesia mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi warganya, menginggat indeks wirausaha di Indonesia masih jauh dari katagori negara maju yakni sebesar 0,2% - 0,3 % dari yang seharusnya sebesar 2%.   Program ini memang harus dilakukan secara bersama-sama baik dari pemerintah, sekolah, pelajar bahkan stakeholder (pemangku kepentingan) terkait.
Berbagai upaya dan tindakan untuk meningkatkan soft skill pelajar-pelajar di Indonesia sudah saatnya diperhatikan dan dilaksanakan segera, agar Indonesia dapat besaing dengan negara-negara lainya. Kemampuan soft skill mutlak diperlukan untuk menghadapai masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun ini, kerjasama yang dilakukan oleh Indonesia dengan negara-negara yang tergabung dengan ASEAN hendaknya disikapi dengan positif dan dengan kesiap yang mumpuni, jangan sampai negara kita menjadi tujuan ekspor negara-negara lain dan warga negara kita sendiri menjadi penonton di negerinya. Kerjasama antar bangsa memang dirasakan sangat penting, akan tetapi masuknya kulturasi budaya perlu disaring jangan sampai budaya asing yang masuk merusak tatanan sosial dan budaya ketimuran yang kita miliki. Peningkatan soft skill melaui penguatan keagamaan, organisasi, minat bakat dan entrepreneurship ini diharapakan pelajar bahkan pemuda diseluruh Indonesia  mampu bekerja sama untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik, terhindar dari KKN dan bersaing dengan pelajar dari negara lain.  
Share:

Mengejar Dirinya

"Allah SWT Mengizinkan Ku Bertemu Dengannya. Semoga, Suatu Hari Nanti Bisa Bersamanya Selalu. Berpetualang, Berwirausaha, Menulis, Mengabdi, Mendaki dan Menginspirasi untuk Tanah Air Tercinta. Indonesia"

Like Fans Page Facebook